Aku Manusia, Bukanlah Alat
Awalnya kupikir rumah adalah tempat keluarga itu lengkap ada Ibu, Ayah ,dan Anaknya ternyata pemahamanku yang salah
Namaku Salma Alidra. Usiaku telah menginjak 14 tahun. Aku hidup dikeluarga yang mampu. Di sekolah teman-temanku selalu memandangku sebagai “murid berprestasi,” namun aku merasa itu tidak ada artinya.
Di rumah orang tua ku selalu sibuk dengan urusan sampai mereka tidak pernah ada mendampingiku ketika aku meraih pencapaian. Pada saat aku gagal apakah mereka menyemangati ku? Tentu tidak yang aku terima hanyalah hujan makian.
“Kamu jadi anak bisa berguna gak sih!”
“Menurut Papa kamu tuh cuman beban keluarga! “
Aku merespon diam. Seolah itulah makananku sehari-hari. Kata orang-orang anak tunggal selalu disayang oleh kedua orang tuanya. Tapi kenapa aku tidak merasakannya? Yang kudapat hanyalah tuntutan untuk sempurna. Mereka selalu berkata kepadaku “kaulah harapan keluarga” Emang kata-kata itu manis diawal tetapi menekan jika diucapkan setiap kalinya.
Cara menenangkan diriku sendiri yaitu dengan menggambar. Aku tuangkan semua perasaanku hanya di selembar kertas. Suatu hari, papaku pernah membakar semua gambarku katanya “gambar itu gak guna, buang-buang waktuku saja!“ Di luar tampaknya aku terlihat baik-baik saja namun dibaliknya aku hancur. Sampai aku tidak tau siapa jati diriku sebenarnya.
Setelah lulus di sekolah menengah pertama aku memutuskan untuk pergi ke tempat kediaman tanteku. Disana aku menerima kehangatan dan aman yang belum pernah ku rasakan dari kedua orang tua ku. Setiap aku meraih pencapaian hanya dia yang mengapresiasi usahaku. Jauh dari kata makian, tuntutan, dan hinaan.
Perlahan, aku mulai menerima diriku sendiri. Mungkin menjauh dari luka lama pilihan terbaik.
Pesan:
Rumah tidak menentukan ikatan sedarah dari Ayah, Ibu, dan anak. Melainkan rumah adalah adanya rasa kasih sayang dan rasa aman.
- Karya dari:Gisellina
