Kenangan Masa Kecil Menjadi Wujud Nyata Sebuah Cita-Cita
Karya : Hariyanti Datuan, S.Pd
Di sudut ruang tamu rumah kayu yang merupakan peninggalan kakek, masih terbayang jelas bayangan seorang anak kecil yang duduk bersila di depan sebuah papan tulis hitam kecil yang sudah retak. Dengan sepotong kapur di tangan kanan dan tumpukan buku bekas di tangan kiri, anak itu berbicara serius di depan barisan kursi yang kosong. Bagi dia, kursi-kursi itu seperti murid-murid yang sangat ingin belajar.
Itulah cara dia menghabiskan waktu sore. Sementara teman-teman sebaya sedang asyik bermain layang-layang di lapangan, dia malah memilih untuk “mengajar” di ruang tamu. Kenangan sederhana itu bukan hanya sekadar hiburan, tetapi merupakan impian yang mulai tumbuh.
Waktu berlalu, dan bayangan anak kecil itu kini tumbuh menjadi sosok dewasa yang berdiri di depan kelas yang sebenarnya. “Kini, bangku-bangku itu…”, tidak lagi kosong. Di hadapannya, duduk puluhan pasang mata yang berbinar penuh harapan para generasi muda yang sedang mencari jati diri mereka.
Menjadi seorang pendidik di era digital saat ini justru jauh lebih menantang daripada bayangan masa kecilnya. Tidak lagi hanya tentang kapur dan papan tulis, tetapi bagaimana membimbing mereka memilah informasi di tengah banyaknya berita yang mengalir deras, serta menanamkan integritas sebagai persiapan utama mereka di masa depan.
Setiap kali merasa lelah karena banyaknya urusan administrasi atau kesulitan di lapangan, dia selalu mengingat kembali kenangan di ruang tamu kakek. Betapa tulusnya keinginan anak kecil itu untuk sekadar berbagi sesuatu yang bisa bermanfaat. Mengajar bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tapi tentang menyentuh hati. Persiapan yang baik adalah cara kita menunjukkan hormat kepada masa depan siswa. Menjadi contoh yang jujur adalah pelajaran yang paling berharga.
Sekarang, setiap kali dia masuk ke dalam ruang kelas, rasanya seperti sedang memeluk erat anak kecil yang dulu pernah ada. Cita-cita yang dulu hanya berupa permainan peran, kini telah menjadi wujud nyata dalam pengabdian sehari-hari. Ternyata, mimpi masa kecil adalah petunjuk yang paling jujur mengarahkan kita kembali ke tujuan hidup yang sebenarnya.
